JADI GURU APA JADI RUGU ?
Masalah menuntuntaskan proses transisi dari budaya agraris pada masyarakat disekitar kita menjadi budaya industrial merupakan contoh masalah baru yang sebenarnya menjadi isu nasional yang sampai sekarang belum tuntas. Yang lebih menyedihkan hal ini pula menjadi perilaku yang meyatu pada diri orang-orang pribumi (budaya local), hal ini terkadang dipengaruhi oleh lingkungan yang memanjakan masyarakat, seperti masih mencukupinya sumber alam di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari walaupun itu hanya paspasan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, yang tanpa disadari bahwa sumber alam di lingkungannya tersebut bisa habis, dan apa lagi yang bisa diharapkan untuk menghadapi hari esok untuk keluarga, anak dan cucunya dikemudian harinya kalau tidak disiapkan dari sekarang (minimal dengan pengetahuan dan teknologi)
Orang keturunan Tionghoa dengan teknologi ekonominya mampu menguasai hampir 40% ekonomi di Indonesia, Malaysia, dan 75% di Singapura dikarenakan kemampuannya untuk bertindak secara professional dan proporsional di bidang ekonomi dengan mengikuti teknologi dan informasi secara global sesuai dengan tuntutan zaman, sedangkan orang melayu yang mayoritas penduduk Indonesia dan Malaysia masih jauh tertinggal, tentunya suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar hal ini dikarenakan oleh miskinnya kemauan dan kemampuan untuk mengikuti perkembangan teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan. Dan yang lebih menyedihkan lagi dengan sombongnya seorang oknum birokrat/ politisi dengan sok mengertinya berteriak ‘ayo kita tuntaskan kemiskinan dengan memberikan subsidi uang tunai dan kridit’ tanpa memikirkan betapa miskinnya mereka akan keterampilan dan ilmu pengetahuan untuk mampu mengelola infestasi/modal menjadi berkembang seperti yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa. Salahkan pendidikan selama ini sehingga tidak mampu memeberikan pengetahuan yang cukup untuk masyarakat hidup layak dipandang dari status ekonomi?, tentunya tidak sepenuhnya benar.
Demikian juga dengan dunia pendidikan, ketika kita (lembaga pendidikan) tidak mampu untuk bertindak secara tepat, professional dan proporsional untuk mengelola pendidikan, tak akan bisa dibayangkan 10 s/d 20 tahun ke depan seperti apa generasi pemimpin bangsa.
Sebuah dilema pada dunia pendidikan selama ini profesi guru masih dianggap sebuah pekerjaan sampingan, bukan pekerjaan utama, sehigga jurusan Kependidikan/ Tarbiyah pada Perguruan Tinggi juga merupakan sebuah Fakultas pinggiran, sampai pada rekrutmen guru dengan persaingan yang tidak terlalu ketat. Karena menjadi guru akan memikul beban yang teramat berat dengan insentif yang tidak memadai, serta memerlukan skill yang tinggi dari seluruh segi.
Anda coba tanyakan pada siswa setingkat SMA/SLTA adakah di anatara mereka yang berminat menjadi guru? Penulis yakin hanya 1-3 % dari mereka yang berminat, itupun hanya karena tuntutan nurani melihat betapa terpuruknya dunia pendidikan disekitar mereka. Sebaliknya ketika ditanya berminatkah mereka berkerja sebagai karyawan Bank atau perusahaan bonafit, tentu 70-90% mereka menjawab ‘ya’. Dorongannya tentu saja karena menjadi karyawan Bank dan sejenisnya dirasakan karena lebih menjanjikan dari segi materi dan punya derajat (sebut ‘pede’) dimata orang lain. Apakah menjadi guru tidak punya derajat? Tentunya punya, kita bisa tanyakan kepada orang-orang disekitar kita.
Seorang Guru yang dipecat di Perancis menjadi stress karena kehilangan pekerjaannya mengingat betapa berharganya menjadi guru di negara tersebut, sehingga polisi anti teroris seara ekstra ketat memblokir sekolah tempat bekas guru tersebut, karena depresi yang dialaminya hingga dia menyandra seluruh siswanya dengan ancaman yang cukup sadis, meskipun akhirnya mampu ditangkap polisi dengan negosiasi yang cukup alot.
Menjadi guru di Perancis memang membutuhkan kemampuan dan kecakapan yang ekstra, yang diimbangi juga dengan penghargaan masyarakatnya akan profesi guru, disamping juga imbalan secara financial yang demikian besar, sehingga wajar ketika seorang guru diputuskan dari pekerjaan tersebut akan mengalami depressi yang cukup berat, karena merasa akan terhina di mata masyarakatnya dan merasa kehilangan harga diri & pendapatan yang cukup menjanjikan.
Penulis pernah tercengang ketika ditanya oleh seorang ibu Direktur Yayasan Penyantun Orang Utan Taman Nasional Tanjung Puting asal Malaysia, ‘Pak Guru di mana menaruh Mobil, apakah Pak Guru menggarasikannya di Villa sendiri?” spontan saya balik bertanya “memangnya seberapa gajih guru, jangankan beli mobil, motor butut aja sampai sekarang belum bisa menggantinya”. Sang ibu tersebut malah kaget dan berkata “gajih saya sekarang hampir sama dengan gaji guru di kampung saya, paling-paling besaran saya sedikit, dan rata-rata orang seprofesi saya becita-cita menjadikan anaknya menjadi seorang guru, karena jadi guru merupakan pekerjaan yang teramat mulia dan mendapatkan gaji yang cukup besar.
Agustus 25, 2009 pada 7:18 pm
PAk webnya, gambar sekolah dan taman sekolah knp ngak ditampilkan ???
kan ada gurunya yang bisa bikin taman…?
kenapa ngak seperti Min 1 malang ???
jadi aneh aja situsnya koq ngak nyambung???
maju terus min 1 kumai hillir……. go to the best……. good luck….